
Peristiwa Berubahnya Kiblat
Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat pertama kali tiba di Madinah, arah shalat mereka menghadap Baitul Maqdis di Palestina — yaitu Masjid Al-Aqsa — sesuai perintah yang berlaku pada masa itu. Kebiasaan ini berlangsung lebih dari setahun, sampai pada tahun kedua Hijriah arah kiblat diubah menghadap Ka'bah di Masjidil Haram.
Menurut riwayat, perubahan itu terjadi di tengah-tengah sebuah shalat: wahyu turun dan Rasulullah ﷺ berpaling menghadap Ka'bah, sementara para sahabat di belakangnya mengikuti arah baru tanpa dipersilakan berdiri lebih dulu. Arah itulah yang dipertahankan seluruh umat Islam hingga hari ini, di mana pun mereka berada.
Dua Kiblat dalam Satu Bangunan
Dari peristiwa inilah masjid ini diberi nama Qiblatain — dua kiblat — karena pernah menjadi tempat dua arah shalat yang berbeda dalam satu waktu: kiblat lama menghadap Baitul Maqdis dan kiblat baru menghadap Ka'bah. Masjid berdiri di kawasan barat laut Madinah, sekitar tiga kilometer dari Masjid Nabawi.
- Nama Qiblatain berasal dari kata qiblah yang berarti arah shalat, dengan akhiran penunjuk bilangan dua.
- Masjid telah beberapa kali direnovasi oleh pihak berwenang sehingga kini lebih luas dan nyaman untuk jamaah.
- Saat ini seluruh jamaah shalat menghadap Ka'bah seperti masjid lainnya; yang tersisa adalah nama, lokasi, dan kisah peristiwa yang terus diceritakan kepada setiap pengunjung.
Dalil Peristiwa dalam Al-Qur'an
Peristiwa ini dicatat langsung dalam QS Al-Baqarah ayat 144 dan 145. Ayat pertama menyebut bahwa Allah melihat Nabi ﷺ menoleh ke langit mencari petunjuk, maka kiblat yang beliau senangi pun ditetapkan: hadapkanlah wajah ke arah Masjidil Haram, dan di mana pun kamu berada, hadapkanlah wajah ke arahnya. Orang-orang yang diberi Kitab mengetahui bahwa itu benar dari Tuhan mereka.
Ayat berikutnya menegaskan bahwa meski segala bukti diberikan kepada Ahlul Kitab, mereka tidak akan mengikuti kiblat beliau, sebagaimana beliau pun tidak mengikuti kiblat mereka. Kiblat bukan sekadar arah fisik, melainkan tanda kepatuhan: mengikuti perintah Allah meski kebiasaan lama harus ditinggalkan. Masjid Qiblatain menjadi pengingat visual dari pelajaran itu.
Tips Berkunjung ke Masjid Qiblatain
- Singgah pada pagi atau sore hari agar cuaca sejuk dan halaman belum ramai oleh rombongan lain.
- Bawa air minum dan pakaian yang menutup aurat; kawasan masjid terbuka dan minim naungan.
- Luangkan waktu membaca keterangan peristiwa di dalam masjid, bukan sekadar berfoto di halaman.
- Ikuti arahan petugas terkait pintu masuk dan area shalat, karena pengaturannya bisa berubah.
- Kembalilah berkumpul dengan rombongan tepat waktu — masjid ini biasanya jadi perhentian singkat sebelum agenda berikutnya.
Dalil & Sumber
Pertanyaan Umum
Di mana letak Masjid Qiblatain?
Di kawasan barat laut Madinah, sekitar tiga kilometer dari Masjid Nabawi. Lokasinya berada di jalur keluar kota, sehingga sering disinggahi rombongan ziarah sebelum atau sesudah agenda utama di pusat kota.
Kapan peristiwa berubahnya kiblat terjadi?
Pada tahun kedua Hijriah, sekitar enam belas sampai tujuh belas bulan setelah hijrah, ketika arah shalat masih menghadap Baitul Maqdis. Peristiwa terjadi di tengah shalat dan dicatat dalam QS Al-Baqarah ayat 144-145.
Apakah masih ada dua arah shalat di masjid?
Saat ini tidak ada lagi dua arah shalat yang berbeda — seluruh jamaah menghadap Ka'bah seperti di masjid lainnya. Yang tersisa adalah nama Qiblatain, lokasi peristiwa, dan kisah yang diceritakan kepada setiap pengunjung.
Apakah Masjid Qiblatain selalu dikunjungi rombongan umroh?
Sebagian besar paket ziarah Madinah menyertakan masjid ini karena nilainya yang tinggi sebagai saksi sejarah perubahan kiblat. Durasi singgah dan urutan kunjungan berbeda antar travel, jadi konfirmasi jadwal kepada muthawwif Anda.