
Mengapa Ziarah ke Makam Nabi ﷺ
Makam Nabi Muhammad ﷺ berada di bekas kamar Aisyah radhiyallahu 'anha, yang kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi, tepatnya antara rumah beliau ﷺ dan mimbar. Jemaah umroh hampir selalu menyempatkan ziarah ke sini, baik saat pertama tiba maupun menjelang pulang.
Ziarah ke makam beliau ﷺ bukan bagian dari rukun umroh. Ia adalah ibadah sunah yang mengandung kecintaan kepada Rasulullah ﷺ: mengingat ajarannya, mendoakannya, dan meneladani akhlaknya. Karena itu para ulama menekankan bahwa ziarah ini bermakna bila diiringi dengan shalat dan ketaatan, bukan sekadar kunjungan biasa.
Pandangan Jumhur Ulama
Jumhur ulama dari berbagai madzhab memandang ziarah ke kuburan Nabi ﷺ adalah sunah yang dianjurkan, sebagaimana ziarah kubur pada umumnya. Dasarnya antara lain hadits yang diriwayatkan Muslim bahwa Nabi ﷺ melarang umatnya berziarah kubur, lalu bersabda bahwa larangan itu dicabut dan kini mereka boleh berziarah.
Sebagian ulama juga berdalil dengan kisah sebagian salaf yang datang ke Masjid Nabawi lalu menyampaikan salam kepada beliau ﷺ. Dalam pandangan jumhur, ziarah ke makam Nabi ﷺ termasuk bentuk penghormatan kepada beliau dan bukan perbuatan yang dilarang, selama tidak menyertai sikap berlebihan.
Pandangan Syafi'iyyah dan Adab yang Diajarkan
Ulama Syafi'iyyah terhitung yang paling banyak membahas tata cara ziarah ke makam Nabi ﷺ. Mereka menyebutnya sunah yang dianjurkan, terlebih bagi musafir yang baru datang dari perjalanan jauh, dengan urutan: shalat dua rakaat terlebih dahulu di Masjid Nabawi, menghadap kiblat; kemudian menghadap ke arah beliau ﷺ dari jarak yang diperbolehkan; lalu mengucapkan salam dan berdoa.
Adab ini diambil dari riwayat-riwayat para salaf dan penjelasan ulama tentang bagaimana mereka berziarah. Pendapat ini menempatkan ziarah sebagai ibadah penambah kecintaan, bukan sebagai kewajiban. Ulama dari madzhab lain pada dasarnya sepakat soal keutamaannya dan berbeda-beda pada rincian tata caranya.
Pandangan yang Membatasi
Di sisi lain, terdapat ulama yang lebih berhati-hati dalam memandang ziarah khusus ke makam Nabi ﷺ. Di antaranya Ibnu Taimiyah dan pengikut madzhab Hanabilah yang membolehkan ziarah kubur secara umum, namun tidak menjadikan ziarah khusus ke makam beliau ﷺ sebagai sesuatu yang ditekankan, apalagi diwajibkan.
Bagi mereka, perhatian utama seorang muslim adalah mengikuti ajaran beliau ﷺ, bukan sekadar mendekati tempat peristirahatannya. Ulama ini juga menegaskan larangan menjadikan kubur sebagai tempat shalat, dan mengingatkan agar seseorang tidak beranggapan bahwa mendekati makam dapat menggantikan ketaatan kepada perintah Allah.
Perbedaan ini adalah khilafiyah di antara ulama. Jemaah dapat mengambil ringkasan bersama: ziarah dibolehkan dan dianjurkan menurut jumhur, namun tetap dengan batasan adab dan tanpa berlebihan.
Adab dan Tata Cara bagi Jemaah
Secara praktis, jemaah umroh biasanya diarahkan pemandu ke kawasan ziarah di sisi timur Masjid Nabawi. Beberapa adab berikut yang lazim diajarkan dan dapat disiapkan sebelum tiba:
- Masuklah dengan khusyuk dan jangan terburu-buru; jaga suara agar tidak mengganggu orang yang sedang shalat.
- Ucapkan salam dan doa dengan suara rendah, tanpa berteriak atau mengerumuni kisi-kisi.
- Tidak berdesakan, tidak mengangkat tangan ke arah makam, dan tidak melakukan amalan yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.
- Bila memungkinkan, shalat dua rakaat terlebih dahulu sebagai persiapan sebelum menuju tempat ziarah.
Doa Ziarah yang Diriwayatkan
Doa yang paling mashur untuk ziarah kubur adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ, yang diriwayatkan oleh Muslim:
Untuk makam Nabi ﷺ, jemaah biasanya memanjatkan doa bagi beliau ﷺ, bagi Abu Bakar dan Umar, serta memohon syafaat beliau di hari kiamat. Doa tersebut boleh dibaca dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab, sebab yang utama adalah kekhusyukan dan keyakinan akan dikabulkannya Allah.
Hal yang Perlu Dijaga Bersama
Ziarah yang benar justru terlihat dari ketenangan. Beberapa hal berikut sebaiknya dijaga agar ziarah tetap khusyuk dan tidak menimbulkan kerumunan: mengikuti arahan pemandu, menunggu giliran, dan menghormati jemaah lain yang sedang berdoa.
Penting pula diingat bahwa keutamaan ziarah terletak pada doa dan ibadahnya, bukan pada keramaian atau jumlah foto. Jemaah yang datang dengan adab yang benar, walau singkat, akan pulang dengan hati yang lebih dekat kepada Rasulullah ﷺ dan ajarannya.
Dalil & Sumber
Pertanyaan Umum
Apakah ziarah ke makam Nabi ﷺ wajib saat umroh?
Tidak. Ziarah ke makam Nabi ﷺ adalah ibadah sunah, bukan rukun umroh. Namun hampir semua jemaah umroh menyempatkannya karena merupakan kesempatan langka.
Apa hukumnya menurut jumhur ulama?
Jumhur ulama memandangnya sunah yang dianjurkan. Dasarnya antara lain hadits tentang kebolehan berziarah kubur yang diriwayatkan Muslim, serta adab ziarah yang disebut para salaf.
Apakah semua ulama sepakat soal ini?
Tidak. Terdapat perbedaan di kalangan ulama. Sebagian menganjurkannya, sebagian lain lebih membatasi dan tidak menjadikannya agenda utama, dengan dasar masing-masing. Perbedaan ini adalah khilafiyah yang wajar di kalangan ulama.
Berapa lama waktu yang ideal untuk ziarah?
Cukup singkat dan khusyuk, sekitar beberapa menit. Yang penting salam dan doa terpanjat, tanpa berdesakan agar jemaah lain juga dapat berziarah.